Newest Post
// Posted by :Malta fania
// On :Jumat, 22 Juni 2012
Hari ini aku begitu sedih bahkan sampai menangis, ketika aku menyaksikan seorang ibu yang tega memukul anaknya dengan sapu bertubi-tubi. Aku sangat tahu anak itu memang nakal. Tapi pantaskah anak dipukul karena kenakalannya?
Kisah itu dimulai ketika dia ingin pergi ke sebuah tempat bersama ibunya. Lucunya si ibu pun berjanji dan mengatakan iya dan bersedia. Namun kenyataannya, keinginan si anak itu tidak dipenuhinya. Karuan saja anaknya mengamuk dan menangis meraung-raung.
Melihat kejadian itu, aku sangat jengkel dengan ulah ibunya. Mengapa? Hampir satu jam anaknya menangis dan rewel minta diantar ke tempat yang sudah dijanjikan itu, dia tidak bergeming melakukan apapun.
Semestinya, kalau memang ia merasa terganggu dengan sikap anaknya, seharusnya ia tidak usah mengajak anaknya pergi. Atau jangan pernah berjanji bahwa ia bersedia mengantarkannya ke tempat yang diminta. Atau apa salahnya sih, antar anak itu ke sana sebentar, toh jarak yang diinginkan tidak terlalu jauh. Bukan dengan cara kekerasan.
Kadang para orangtua tidak pernah berpikir kenapa sih anaknya nakal? Mereka hanya menyalahkan si anak dan mengatakan “Dasar kamu anak nakal, tidak bisa diatur”
Pernahkah mereka merenung apa yang sudah dilakukannya sehingga anaknya menjadi nakal dan tidak bisa diatur? Anak tidak bisa disalahkan begitu saja, karena mereka adalah korban.
Pada kasus diatas ketika si ibu sudah tidak tahan melihat anaknya mengamuk dan menangis, apakah pantas ia langsung mengambil sapu dan memukul anaknya. Di luar dugaan, aku yang melihat kejadian itu langsung terperanjat ketika melihat sikap anaknya yang tidak terima diperlakukan seperti itu. Serta merta ia juga mengambil sapu dan memukul ibunya. uphhhhhhhhhhh…. aku merasa trenyuh dan sedih melihat kejadian itu. Jujur saja, aku merasa amat sangat sedih, aku menangis melihat sikap ibunya seperti itu. Ada hal yang semestinya harus dia lakukan, yang tidak membuat akhirnya anak itu mengamuk.
Aku jadi teringat bagaimana penderitaan seorang ibu ketika mereka akan melahirkan bayinya. Bahkan mereka menggantung hidupnya demi keselamatan anaknya, dan berucap doa semoga anaknya lahir selamat. Beberapa pasangan suami istri melakukan berbagai cara untuk mendapatkan keturunan. Seorang ibu sangat sedih dan stress karena keguguran. Bahkan seorang ibu harus rela berpisah dengan anaknya karena perceraian dan tidak pernah bertemu dengan anaknya selamanya. Ia rela berkorban melepaskan anaknya untuk bersama ayahnya karena anak itu akan lebih bahagia jika bersama orangtuanya yang baru.
Kejadian itu begitu mengusikku, mengapa?
Aku ingat satu peristiwa, ada kisah seorang anak minta dibelikan baju. Namun, karena orangtuanya tidak mau membelikannya, bahkan memarahinya anak itu langsung stress dan frustasi. Keesokan harinya dia tewas gantung diri.
Ada juga sebuah peristiwa yang dialami seorang anak kelas 3 SD. Karena selalu mendapatkan kekerasan dalam rumahnya, ia sering dipukul, dibentak oleh orangtuanya, dia akhirnya melampiaskannya pada temannya di sekolah. Anak itu sangat nakal bahkan sadis.
Atau kejadian lain ketika seorang siswa SD mampu membunuh temannya sendiri lantaran melihat tayangan smackdown di TV.
Dari kasus ini aku melihat, anak tidak bisa dibesarkan dengan kekerasan. Kalau kekerasan sudah menjadi santapannya sehaai-hari, ia akan menjadi pribadi yang keras dan kaku. Ini sangat tidak baik untuk perkembangan jiwanya kelak.
Para orangtua jangan pernah berpikir ketika anak diperlakukan keras, apalagi dipukul akan menurut dan diam. Anda salah. Anak tidak akan menurut, bahkan menjadi bebal, bahkan akan meniru kekerasan yang pernah dilakukan orangtuanya pada orang lain.
Aku pernah berbincang-bincang dengan salah seorang ahli kejiwaan dr. Nyoman Hanati , Sp.KJ. Ia mengatakan, jangan pernah berikan situasi yang sulit pada anak. Jangan pernah kenalkan kekerasan pada anak. Ketika anak stress dan tidak mampu mengolah emosinya, akibatnya bisa fatal. Bukan saja bisa lari ke pergaulan negative seperti tawuran, anak dapat terjerumus narkoba bahkan bunuh diri. Yang lebih penting lagi jangan pernah menyalahkan anak. Masalah yang terjadi pada anak, harus dibicarakan dan dicarikan solusi. Kekerasan bukanlah satu solusi yang tepat. Mendidik anak pun tidak bisa dilakukan setelah anak besar. Pendidikan budi pekerti dan kasih sayang haruslah diajarkan sejak anak masih bayi.
Jangan samakan pola mendidik anak zaman dulu dengan anak zaman sekarang. Aku masih ingat ketika aku kecil, jangankan berani melawan orangtua, melakukan kesalahan sedikit saja takutnya bukan kepalang. Selalu berusaha menjadi anak yang baik , penurut dan rajin belajar. Mendengar bentakan saja, sudah takutnya luar biasa. beda dengan anak zaman sekarang. Dibentak malah ikut membentak, dipukul malah ikut memukul.
Sebuah seruan dari Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAID) Bali yang patut dicermati para orangtua. Anak adalah tunas, potensi dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa. Anak perlu mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal baik fisik, mental maupun sosial. Untuk menjadikan anak cerdas dan berkualitas beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Jika banyak dicela anak biasa menyalahkan
2. Jiak banyak dimusuhi anak belajar menjadi pemberontak
3. Jika hidup dalam ketakutan anak akan selalu merasa cemas
4. Jiak dibesarkan dalam olok-olok maka anak akan menjadi pemalu
5. Jika dikelilingi rasa iri anak tak akan pernah puas dengan apa yang dimilki.
6. Besarkan anak dalam pengertian maka ia akan tumbuh menjadi orang yang penyabar
7. Jika dipuji anak akan terbiasa menghargai orang lain.
8. Jika dibesarkan dalam kejujuran anak akan terbiasa melihat kebenaran
9. Jika ditimang tanpa berat sebelah anak akan besar dalam nilai keadilan
10. Jika dibesarkan dengan rasa aman, anak akan mengandalkan diri dan mempercayai orang lain.
11. Jika tumbuh dalam keramahan anak akan melihat dunia ini sungguh indah.
Hendaknya para orangtua belajar dan bercermin, didikan dan kedisiplinan pada anak tidak harus dilakukan dengan kekerasan. Rasa kasih sayang, kepedulian dan perhatian menjadi prioritas orangtua dalam mendidik anak-anaknya. Semoga semakin banyak orangtua yang mengerti dan tidak ada lagi kekerasan dalam rumah tangga.
