Newest Post

Archive for 2012

Pengertian Thaharah

Secara bahasa, thaharah artinya membersihkan kotoran, baik kotoran yang berwujud maupun kotoran yang tidak berwujud.Adapun secara istilah, thaharah artinya menghilangkan hadats, najis, dan kotoran dengan air atau tanah yang bersih. Dengan demikian, thaharah adalah menghilangkan kotoran yang masih melekat di badan yang membuat tidak sahnya shalat dan ibadah lain. [Lihat Ibnu Qudamah, Al_Mughni (I/12) dan kitab Taudhih Al_Ahkam karya Abdullah Al_Bassam (I/87)]

thaharah

Selasa, 11 September 2012
Posted by Malta fania

IV. Pembagian Pembahasan FiqihIbnu Rusyd dalam kitabnya “Bidayatul Mujtahid” membagi pembahasan fiqih sebagai berikut :1. Bagian Ibadah.1.1. Kitab Taharah1.1.1. Taharah dari hadas1.1.2. Taharah dari najis1.2. Kitab Kitab Shalat1.3. Kitab Janazah1.4. Kitab Zakat1.5. Kitab Zakat Fitrah1.6. Kitab Shiyam (puasa)1.7. Kitab I’tikaf1.8. Kitab Haji1.9. Kitab Jihad1.10. Kitab Aiman (sumpah)1.11. Kitab Nadar1.12. Kitab Qurban1.13. Kitab Sembelihan1.14. Kitab Berburu1.15. Kitab Aqiqah1.16. Kitab makanan dan minuman yang haram


Hari ini aku begitu sedih bahkan sampai menangis, ketika aku menyaksikan seorang ibu yang tega memukul anaknya dengan sapu bertubi-tubi. Aku sangat tahu anak itu memang nakal. Tapi pantaskah anak dipukul karena kenakalannya?

Kisah itu dimulai ketika dia ingin pergi ke sebuah tempat bersama ibunya. Lucunya si ibu pun berjanji dan mengatakan iya dan bersedia. Namun kenyataannya, keinginan si anak itu tidak dipenuhinya. Karuan saja anaknya mengamuk dan menangis meraung-raung.

Melihat kejadian itu, aku sangat jengkel dengan ulah ibunya. Mengapa? Hampir satu jam anaknya menangis dan rewel minta diantar ke tempat yang sudah dijanjikan itu, dia tidak bergeming melakukan apapun.

Semestinya, kalau memang ia merasa terganggu dengan sikap anaknya, seharusnya ia tidak usah mengajak anaknya pergi. Atau jangan pernah berjanji bahwa ia bersedia mengantarkannya ke tempat yang diminta. Atau apa salahnya sih, antar anak itu ke sana sebentar, toh jarak yang diinginkan tidak terlalu jauh. Bukan dengan cara kekerasan.

Kadang para orangtua tidak pernah berpikir kenapa sih anaknya nakal? Mereka hanya menyalahkan si anak dan mengatakan “Dasar kamu anak nakal, tidak bisa diatur”

Pernahkah mereka merenung apa yang sudah dilakukannya sehingga anaknya menjadi nakal dan tidak bisa diatur? Anak tidak bisa disalahkan begitu saja, karena mereka adalah korban.

Pada kasus diatas ketika si ibu sudah tidak tahan melihat anaknya mengamuk dan menangis, apakah pantas ia langsung mengambil sapu dan memukul anaknya. Di luar dugaan, aku yang melihat kejadian itu langsung terperanjat ketika melihat sikap anaknya yang tidak terima diperlakukan seperti itu. Serta merta ia juga mengambil sapu dan memukul ibunya. uphhhhhhhhhhh…. aku merasa trenyuh dan sedih melihat kejadian itu. Jujur saja, aku merasa amat sangat sedih, aku menangis melihat sikap ibunya seperti itu. Ada hal yang semestinya harus dia lakukan, yang tidak membuat akhirnya anak itu mengamuk.

Aku jadi teringat bagaimana penderitaan seorang ibu ketika mereka akan melahirkan bayinya. Bahkan mereka menggantung hidupnya demi keselamatan anaknya, dan berucap doa semoga anaknya lahir selamat. Beberapa pasangan suami istri melakukan berbagai cara untuk mendapatkan keturunan. Seorang ibu sangat sedih dan stress karena keguguran. Bahkan seorang ibu harus rela berpisah dengan anaknya karena perceraian dan tidak pernah bertemu dengan anaknya selamanya. Ia rela berkorban melepaskan anaknya untuk bersama ayahnya karena anak itu akan lebih bahagia jika bersama orangtuanya yang baru.

Kejadian itu begitu mengusikku, mengapa?

Aku ingat satu peristiwa, ada kisah seorang anak minta dibelikan baju. Namun, karena orangtuanya tidak mau membelikannya, bahkan memarahinya anak itu langsung stress dan frustasi. Keesokan harinya dia tewas gantung diri.

Ada juga sebuah peristiwa yang dialami seorang anak kelas 3 SD. Karena selalu mendapatkan kekerasan dalam rumahnya, ia sering dipukul, dibentak oleh orangtuanya, dia akhirnya melampiaskannya pada temannya di sekolah. Anak itu sangat nakal bahkan sadis.

Atau kejadian lain ketika seorang siswa SD mampu membunuh temannya sendiri lantaran melihat tayangan smackdown di TV.

Dari kasus ini aku melihat, anak tidak bisa dibesarkan dengan kekerasan. Kalau kekerasan sudah menjadi santapannya sehaai-hari, ia akan menjadi pribadi yang keras dan kaku. Ini sangat tidak baik untuk perkembangan jiwanya kelak.

Para orangtua jangan pernah berpikir ketika anak diperlakukan keras, apalagi dipukul akan menurut dan diam. Anda salah. Anak tidak akan menurut, bahkan menjadi bebal, bahkan akan meniru kekerasan yang pernah dilakukan orangtuanya pada orang lain.

Aku pernah berbincang-bincang dengan salah seorang ahli kejiwaan dr. Nyoman Hanati , Sp.KJ. Ia mengatakan, jangan pernah berikan situasi yang sulit pada anak. Jangan pernah kenalkan kekerasan pada anak. Ketika anak stress dan tidak mampu mengolah emosinya, akibatnya bisa fatal. Bukan saja bisa lari ke pergaulan negative seperti tawuran, anak dapat terjerumus narkoba bahkan bunuh diri. Yang lebih penting lagi jangan pernah menyalahkan anak. Masalah yang terjadi pada anak, harus dibicarakan dan dicarikan solusi. Kekerasan bukanlah satu solusi yang tepat. Mendidik anak pun tidak bisa dilakukan setelah anak besar. Pendidikan budi pekerti dan kasih sayang haruslah diajarkan sejak anak masih bayi.

Jangan samakan pola mendidik anak zaman dulu dengan anak zaman sekarang. Aku masih ingat ketika aku kecil, jangankan berani melawan orangtua, melakukan kesalahan sedikit saja takutnya bukan kepalang. Selalu berusaha menjadi anak yang baik , penurut dan rajin belajar. Mendengar bentakan saja, sudah takutnya luar biasa. beda dengan anak zaman sekarang. Dibentak malah ikut membentak, dipukul malah ikut memukul.

Sebuah seruan dari Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAID) Bali yang patut dicermati para orangtua. Anak adalah tunas, potensi dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa. Anak perlu mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal baik fisik, mental maupun sosial. Untuk menjadikan anak cerdas dan berkualitas beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1. Jika banyak dicela anak biasa menyalahkan

2. Jiak banyak dimusuhi anak belajar menjadi pemberontak

3. Jika hidup dalam ketakutan anak akan selalu merasa cemas

4. Jiak dibesarkan dalam olok-olok maka anak akan menjadi pemalu

5. Jika dikelilingi rasa iri anak tak akan pernah puas dengan apa yang dimilki.

6. Besarkan anak dalam pengertian maka ia akan tumbuh menjadi orang yang penyabar

7. Jika dipuji anak akan terbiasa menghargai orang lain.

8. Jika dibesarkan dalam kejujuran anak akan terbiasa melihat kebenaran

9. Jika ditimang tanpa berat sebelah anak akan besar dalam nilai keadilan

10. Jika dibesarkan dengan rasa aman, anak akan mengandalkan diri dan mempercayai orang lain.

11. Jika tumbuh dalam keramahan anak akan melihat dunia ini sungguh indah.

Hendaknya para orangtua belajar dan bercermin, didikan dan kedisiplinan pada anak tidak harus dilakukan dengan kekerasan. Rasa kasih sayang, kepedulian dan perhatian menjadi prioritas orangtua dalam mendidik anak-anaknya. Semoga semakin banyak orangtua yang mengerti dan tidak ada lagi kekerasan dalam rumah tangga.

Perlukah Anak Dipukul Karena Nakal ?

Jumat, 22 Juni 2012
Posted by Malta fania
Aku bukan pria yang baik. Aku tidak putih namun tidak juga hitam. Aku tidak berada di kiri namun bukan berarti aku ada di kanan. Aku di tengah-tengah. Aku, lelaki abu-abu.

Temanku pernah mendebatku tentang ini. Katanya, ”Ben, tidak ada yang namanya kaum tengah. Yang ada adalah kiri atau kanan, kebaikan atau keburukan. Nanti jika dihisap kelak, cuma ada dua pilihan; surga atau neraka dan tidak ada yang ditengah-tengah.”

Temanku benar, tak ada yang di tengah. Kaum tengah tidak pernah memiliki ruang, abu-abu bukanlah warna, dia tidak pernah memiliki tempat. Namun, terkadang aku mendebatnya, ”Bukankah Islam itu pertengahan? Yang tengah antara Yahudi dan Nasrani. Yahudi yang begitu kaku atau Nasrani yang terlalu asih. Islam adalah jawaban dari kesempurnaan. Sebuah jalan tengah bagi umat manusia.”

Mendengar jawabanku dia diam, dan langsung pergi. Mungkin baginya tak ada gunanya melanjutkan percakapan denganku, pedebatan tanpa dalil dan hanya akan menyia-nyiakan masa. Lebih baik berzikir atau tilawah saja, sungguh itu lebih dekat dengan keimanan.

Sebagai lelaki abu-abu, ada banyak yang meragukan konsistensiku, bahkan seorang abang letingku sempat berkata, ”Ben, ada yang tanya sama abang. Kamu masih kader ga?”

Sebuah jawaban yang membuatku tertawa, tertawa dalam isak batin yang menyesakkan. ”Baiquni cuma simpatisan.” Balasku.

Bahkan baru-baru ini seorang berkata kepadaku, ”banyak kisah dalam hidupmu kawan, aku saran skarang bergegas saja tuk mengejar bidadari. Jangan menunggu bidadari datang padamu, kau manusia unik kata kawan2 aku. Sampai ada beberapa wanita elergi mendengar nama Baiquni, napa ya????
Hingga separah itukah?

Lelaki abu-abu,
Berjalan gontai mengikuti angin tanpa arah
Sekali terlalu kiri, terkadang bergerak ke kanan
Terus saja, berjuang untuk tetap tegar
Berjuang untuk tetap menjadi lelaki pilihan

Lelaki abu-abu,
Kiri mengacuhkanmu, kanan memusuhimu
Tangan terbelenggu, tak mampu berteriak
Andai ada yang mengerti
Abu-abu adalah juga pilihan

Salahkah?
Menjadi netral antara dua kubu,
Menikmati keduanya tanpa memilah
Seperti menikmati langit dan bumi
Keduanya tak pernah terpisah

Lelaki abu-abu,
Bukan pilihan sembarang pilihan
Menjadi abu karena konsep dan pemikiran
Berada di atas segala dualisme
Menjadi, menuju Aku.

Kebanyakan manusia cuma mampu menunjuk dalam dua arah: jika kamu bukan kiri maka kamu adalah kanan. Mereka terlupa, sebelum kiri menjadi kanan, di sana ada pertengahan. Antara hitam dan putih, terdapat abu-abu.

”Bukankah dia (Allah) yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan)nya dan yang menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan yang lain? Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengerti.” (Q.S. An-Naml : 61)

Lelaki Abu-abu

Senin, 19 Maret 2012
Posted by Malta fania
Ketika si tukang besi sedang duduk di rumahnya melepas lelah setelah seharian bekerja, tiba-tiba terdengar pintu rumahnya diketuk orang. Si tukang besi keluar untuk melihatnya, pandangannya menubruk pada sesosok wanita cantik yang tak lain adalah tetangganya.

“Saudaraku, aku menderita kelaparan. Jika bukan karena tuntutan agamaku yang menyuruh untuk memelihara jiwa (hifdz al-Nafs), aku tidak akan datang ke rumahmu. Maukah engkau memberikan makanan padaku karena Allah?” Tutur wanita itu.

Ketika itu, memang tengah datang musim paceklik (kemarau). Sawah dan ladang mengering. Tanah pecah berbongkah-bongkah. Padang rumput menjadi tandus hingga hewan ternak menjadi kurus dan akhirnya mati. Makanan menjadi langka, maka tak pelak kelaparan melanda sebagian besar penduduk desa itu. Hanya sebagian kecil yang masih bisa bertahan.

“Tidakkah engkau tahu bahwa aku mencintaim? Akan kuberi engkau makanan, tetapi engkau harus melayaniku semalam,” kata tukang besi itu. Si tukang besi memang jatuh hati kepada tetangganya itu. Dia merayunya dengan berbagai cara dan taktik, namun tak juga berhasil meluluhkan hati wanita itu.

“Lebih baik mati kelaparan daripada durhaka kepada Allah,” ujar wanita itu lagi sambil berlalu menuju rumahnya.Setelah dua hari berlalu, wanita itu kembali mendatangi rumah si tukang besi dan mengatakan hal yang sama. Demikian pula jawaban si tukang besi. Ia akan memberi makanan asalkan wanita itu mau menyerahkan dirinya. Mendengar jawaban yang sama, wanita itupun kembali ke rumahnya.

Dua hari kemudian, wanita itu datang lagi ke rumah tukang besi itu dalam keadaan payah. Suaranya parau, matanya sayu, dan punggungnya membungkuk karena menahan lapar yang tiada tara. Ia kembali mengatakan hal serupa. Begitu pula jawaban si tukang besi, sama dengan yang sudah-sudah. Wanita itu kembali ke rumahnya dengan tangan kosong untuk kali ketiga.

Ketika itulah, Allah memberikan hidayah-Nya kepada si tukang besi. “Sungguh celaka aku ini, seorang wanita mulia datang kepadaku, dan aku terus berlaku dzalim kepadanya,” tutur tukang besi dalam hatinya. “Ya Allah aku bertaubat kepada-Mu dari perbuatanku dan aku tidak akan mengganggu wanita itu lagi selamanya.”

Si tukang besi itu bergegas mengambil makanan dan pergi ke rumah wanita itu. Diketuknya pintu rumah wanita itu. Tak lama berselang, kerekek…terlihat pintu terbuka dan muncullah sesosok wanita yang nampak kuyu. Melihat si tukang besi berdiri di depan pintu rumahnya, wanita itu bertanya, “Apa keperluanmu datang ke rumahku?”

“Aku bermaksud mengantarkan sedikit makanan yang aku punya. Jangan khawatir, aku memberinya karena Allah,” jawab si tukang besi itu. “Ya Allah, jika benar apa yang dikatakannya, maka haramkanlah ia dari api di dunia dan akhirat,” tutur wanita itu seraya menengadahkan kedua tanganya ke langit.

Si tukang besi itu pulang ke rumahnya. Ia memasak makanan yang tersisa buat dirinya. Tiba-tiba secara tak sengaja bara api mengenai kakinya, namun kaki si tukang besi itu tidak terbakar. Bergegas ia menemui wanita itu lagi. “Wanita yang mulia, Allah telah mengabulkan doamu,” ujar si tukang besi. Seketika itu, wanita itu sujud syukur kepada Allah.

“Ya Allah engkau telah mewujudkan doaku, maka cabutlah nyawaku saat ini juga.” Terdengar suara lirih dari mulut wanita itu dalam sujudnya. Allah kembali mendengar doanya. Wanita itupun berpulang ke Rahmatullah dalam keadaan sujud. Demikianlah kisah seorang wanita yang menjaga kehormatannya meskipun harus menahan rasa lapar yang tiada tara.

Setiap muslimah mestinya dapat mengambil i’tibar (pelajaran berharga) dari berbagai kisah wanita sholehah yang telah diuraikan di muka. Merekalah yang mestinya dijadikan suri tauladan dalam kehidupan keseharian, bukan para artis yang menawarkan gaya hidup hedonisme dan materialisme Semoga tulisan sederhana ini membawa banyak manfaat bagi yang membacanya. Segala kesalahan adalah dari saya pribadi, untuk itu saya mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan kebenaran itu mutlak milik Allah Azza Wa Jalla...Wallahu Musta'an Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ila ha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
Penjual Minyak Wangi dan Seuntai Kalung

Seorang pemuda tiba di Baghdad dalam perjalanannya menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Ia membawa seuntai kalung senilai seribu dinar. Ia sudah berusaha keras untuk menjualnya, namun tidak seorang pun yang mau membelinya. Akhirnya ia menemui seorang penjual minyak wangi yang terkenal baik, kemudian menitipkan kalungnya. Selanjutnya ia meneruskan perjalanannya.

Selesai menunaikan ibadah haji ia mampir di Baghdad untuk mengambil kembali kalungnya. Sebagai ucapan terima kasih ia membawa hadiah untuk penjual minyak wangi itu.

“Saya ingin mengambil kembali kalung yang saya titipkan, dan ini sekedar hadiah buat Anda,” katanya.

“Siapa kamu? Dan hadiah apa ini?,” tanya penjual minyak wangi.

“Aku pemilik kalung yang dititipkan pada Anda,” jawabnya mengingatkan.
Tanpa banyak bicara, penjual minyak wangi menendangnya dengan kasar, sehingga ia hampir jatuh terjerembab dari teras kios, seraya berkata, “Sembarangan saja kamu menuduhku seperti itu.”

Tidak lama kemudian orang-orang berdatangan mengerumuni pemuda yang malang itu. Tanpa tahu persoalan yang sebenarnya, mereka ikut menyalahkannya dan membela penjual minyak wangi. “Baru kali ada yang berani menuduh yang bukan-bukan kepada orang sebaik dia,” kata mereka.

Laki-laki itu bingung. Ia mencoba memberikan penjelasan yang sebenarnya. Tetapi mereka tidak mau mendengar, bahkan mereka mencaci maki dan memukulinya sampai babak belur dan jatuh pingsan.

Begitu siuman, ia melihat seorang berada di dekatnya. “Sebaiknya kamu temui saja Sultan Buwaihi yang adil; ceritakan masalahmu apa adanya. Saya yakin ia akan menolongmu,” kata orang yang baik itu.

Dengan langkah tertatih-tatih pemuda malang ini menuju kediaman Sultan Buwaihi. Ia ingin meminta keadilan. Ia menceritakan dengan jujur semua yang telah terjadi.

“Baiklah, besok pagi-pagi sekali pergilah kamu menemui penjual minyak wangi itu di tokonya. Ajak ia bicara baik-baik. Jika ia tidak mau, duduk saja di depan tokonya sepanjang hari dan jangan bicara apa-apa dengannya. Lakukan itu sampai tiga hari. Sesudah itu aku akan menyusulmu. Sambut kedatanganku biasa-biasa saja. Kamu tidak perlu memberi hormat padaku kecuali menjawab salam serta pertanyaan-pertanyaanku,” kata Sultan Buwaihi.

Pagi-pagi buta pemuda itu sudah tiba di toko penjual minyak wangi. Ia minta izin ingin bicara, tetapi ditolak. Maka seperti saran Sultan Buwaihi, ia lalu duduk di depan toko selama tiga hari, dan tutup mulut. 
 
Pada hari keempat, Sultan datang dengan rombongan pasukan cukup besar. “Assalamu’alaikum,” kata Sultan.

“Wa’alaikum salam,” jawab pemuda acuh tanpa gerak.

“Kawan, rupanya kamu sudah tiba di Baghdad. Kenapa Anda tidak singgah di tempat kami? Kami pasti akan memenuhi semua kebutuhan Anda,” kata Sultan.

“Terima kasih,” jawab pemuda itu acuh, dan tetap tidak bergerak.

Saat Sultan terus menanyai pemuda ini, rombongan pasukan yang berjumlah besar itu maju merangsak. Karena takut dan gemetar melihatnya, si penjual minyak wangi jatuh pingsan. Begitu siuman, keadaan di sekitarnya sudah lengang. Yang ada hanya sang pemuda, yang masih tetap duduk tenang di depan toko. Penjual minyak wangi menghampirinya dan berkata:

“Sialan! Kapan kamu titipkan kalung itu kepadanya? Kamu bungkus dengan apa barang tersebut? Tolong bantu aku mengingatnya.”

Si Pemuda tetap diam saja. Ia seolah tidak mendengar semuanya. Penjual minyak wangi sibuk mondar-mandir kesana kemari mencarinya. Sewaktu ia mengangkat dan dan membalikkan sebuah guci, tiba-tiba jatuh seuntai kalung. “Ini kalungnya. Aku benar-benar lupa. Untung kamu mengingatkan aku,” katanya.
Abah, kembalikan tangan Ita.........

kepada semua parents,

ingatlah....semarah apapun, jgnlah bertindak keterlaluan..............

Sebuah kisah untuk dijadikan pengalaman dan pengajaran.....

Sebagai ibu kita patut juga menghalang perbuatan suami kita memukul especially pada anak2 yg masih kecil dan tak tau apa2. Mengajar dgn cara memukul bukanlah cara terbaik, mungkin sudah sampai waktunya untuk badan2 kebajikan educate org M'sia untuk praktikkan konsep 'time out" jika anak2 buat salah.

Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar - meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah semasa keluar bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun. Bersendirian di rumah dia kerap dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja bermain diluar, tetapi pintu pagar tetap dikunci.

Bermainlah dia sama ada berayun-ayun di atas buaian yang dibeli bapanya,ataupun memetik bunga raya, bunga kertas dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dia pun mencoret semen tempat mobil ayahnya diparkirkan tetapi kerana lantainya terbuat dari marmer,coretan tidak kelihatan. Dicobanya pada mobil baru ayahnya.

Ya... kerana mobil itu bewarna gelap, coretannya tampak jelas. Apa lagi kanak-kanak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya. Hari itu bapak dan ibunya bermotor ke tempat kerja kerana macet ada perayaan Thaipusam.

Setelah penuh coretan yg sebelah kanan dia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari si pembantu rumah.

Pulang petang itu, terkejut pasangan itu melihat kereta yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini?"

Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya.

Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan 'Tak tahu…!" "kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya.

Dengan penuh manja dia berkata "Ita yg membuat itu abahhh.. cantik kan!" katanya sambil memeluk abahnya ingin bermanja seperti biasa. Si ayah yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di depannya, terus dipukulkannya berkali2 kw telapak tangan anaknya.

Si anak yang tak mengerti apa apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan.

Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.

Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa?. Si bapak cukup rakus memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya.

Setelah si bapak masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah.

Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil dia ikut menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat luka2nya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu. Si bapak sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.

Keesokkan harinya, kedua-dua belah tangan si anak bengkak.

Pembantu rumah mengadu. "Oleskan obat saja!" jawab tuannya, bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si bapak konon mau mengajar anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Ita demam"... jawap pembantunya ringkas.

"Kasih minum panadol ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lg pintu kamar pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Ita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 siap" kata majikannya itu.

Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Doktor mengarahkan ia dirujuk ke hospital kerana keadaannya serius. Setelah seminggu di rawat inap doktor memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan.." katanya yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong kerana gangren yang terjadi sedah terlalu parah.

"Ia sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu dipotong dari siku ke bawah" kata doktor.

Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapak terketar-ketar madandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari bilik pembedahan, selepas obat bius yang suntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga heran2 melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis.

Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata.

"Abah.. Mama... Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau ayah pukul. Ita tak mau jahat. Ita sayang abah.. sayang mama." katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya.

"Ita juga sayang Kak Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis dari Surabaya itu meraung histeris.

"Abah.. kembalikan tangan Ita. Untuk apa ambil.. Ita janji tdk akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Ita mau makan nanti? Bagaimana Ita mau bermain nanti? Ita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi," katanya berulang-ulang.

Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia

sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada manusia dapat menahannya.

jika tidak dapat apa yang kita suka...belajarlah utk menyukai apa yang kita dapat.."
Aku biasa-biasa saja !
Tahukah anda, apa yang paling dibanggakan orang tua dari anak-anaknya? Boleh jadi adalah kecerdasan scholastic, seperti matematika, bahasa,menggambar (visual), musik (musical), dan olahraga (kinestetik).
Tetapi, pernahkah kita membanggakan jika anak kita memiliki kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal, atau kecerdasan interpersonal?
Rasanya jarang, sebab ketiga kecerdasan yang terakhir hampir pasti uncountable, tidak bisa dihitung, dan sayang sekali tidak ada pontennya (nilainya) di sekolah, karena di sekolah hanya memberikan penilaian kuantitatif.
Ada sebuah cerita tentang seorang anak, sebut saja namanya Fani (6,5 tahun), kelas I SD. Ia memiliki banyak sekali teman. Dan ia pun tidak bermasalah harus berganti teman duduk di sekolahnya. Ia juga bergaul dengan siapa saja dilingkungan rumahnya. Ada satu hal yang menarik saat ia bercerita tentang teman-temannya.
"Bu, Ifa pinter sekali lho, Bu...! Pinter Matematika, Bahasa Indonesia, Menggambar ....pokoknya pinter sekali....!" katanya santai. Vivi juga pintar sekali menggambar, gambarnya bagus ...sekali! Kalau si Yahya hafalannya banyaaak... sekali!"
Ya memang Fani senang sekali membanggakan teman-temannya. Ketika mendengar celoteh anaknya ibunya tersenyum dan bertanya, " Kalau mbak Fani pinter apa?" Ia menjawab dengan cengiran khasnya," Hehehe...kalau aku, sih, biasa-biasa saja".
Jawaban itu mungkin akan sangat biasa bagi anda, tetapi ibunya tertegun, karena pada dasarnya Fani memang demikian. Ia biasa-biasa saja untuk ukuran prestasi scholastic.
Tapi coba kita dengarkan apa cerita gurunya, bahwa Fani sering diminta bantuannya untuk membimbing temannya yang sangat lamban mengerjakan tugas sekolah, mendamaikan temannya yang bertengkar.
Bahkan ketika dua orang adiknya, Farah (4,5 tahun) dan Fadila (2,5 tahun) bertengkar. Fani langsung turun tangan. "Sudah..! sudah, Dek! sama saudara tidak boleh bertengkar, Hayo tadi siapa yang mulai?"Adiknya saling tunjuk."Hayo, jujur ...! Jujur itu disayang Allah..! Sekarang salaman ya... saling memaafkan".
Pun ketika suatu hari ia melihat baju-baju bagus di toko, dengarlah komentarnya!
"Wah bajunya bagus-bagus ya Bu? Aku sebenarnya pengin, tapi bajuku dirumah masih bagus-bagus, nanti saja kalau sudah jelek dan Ibu sudah punya rezeki, aku minta dibelikan ..."
Ibunya pun tak kuasa menahan air matanya, subhanallah anak sekecil itu sudah bisa menunda keinginan, sebagai salah satu ciri kecerdasan emosional.
Saya sebenarnya ingin berbagi cerita tentang ini kepada anda, karena betapa banyak dari kita yang mengabaikan kecerdasan-kecerdasan emosional seperti itu. Padahal kita tahu dalam setiap tes penerimaan pegawai, yang lebih banyak diterima adalah orang yang mempunyai kecerdasan emosional walaupun dari sisi kecerdasan scholastic adalah BIASA-BIASA SAJA.
Kadang kita merasa rendah diri manakal anak kita tidak mencapai ranking sepuluh besar disekolah. Tetapi herannya, kita tidak rendah diri manakala anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang egois, mau menang sendiri, sombong, suka menipu atau tidak biasa bergaul.
Maka ketika Fani mengatakan "AKU BIASA-BIASA SAJA", maka saat itu ibunya menjawab "Alhamdulillah, mbak Fani suka menolong teman-teman, tidak sombong, mau bergaul dengan siapa saja. Itu adalah kelebihan mbak Fani, diteruskan dan disyukuri ya..?" Ya... ibunya ingin mensupport dan memberikan reward yang positif bagi Fani. Karena kita tahu anak-anak kita adalah amanah dan suatu saat amanah itu akan diambil dan ditanyakan bagaimana kita menjaga amanah. Sebagaimana doa kita setiap hari agar anak-anak menjadi penyejuk mata dan hati.
Sudahkah kita mencoba untuk menggali potensi-potensi kecerdasan emosional anak-anak kita? Kalau belum mulailah dari diri kita, saat ini juga.

Aku biasa-biasa saja !

Posted by Malta fania

// Copyright © Malta Fania //Anime-Note//Powered by Blogger // Designed by Johanes Djogan //